Selasa, 18 Mei 2010

Berbagi Tips dan Triks Gratis

Dapatkan Tips dan triks Gratis untuk menghasilkan Uang Dari Blog. Di
www.uangdariblog.com anda akan menemukan banyak sekali tips yang akan
membatu anda mendapatkan penghasilan pertama dari blog. Semua tips dan
trik itu bisa anda dapatkan dengan gratis tanpa mengeluarkan uang
sepeserpun. Selain dari Di www.uangdariblog.com, anda juga bisa
mendapatkan berbagai trik di www.ayoberbagi.com.

Senin, 17 Mei 2010

Membeli Baju Hamil Online

Ibu hamil memang harus mengurangi aktivitas yang dilakukan agar si jabang bayi nanti lahir dengan selamat tiada kekurangan apapun. Yang saya bilang adalah mengurangi, bukan berarti tidak beraktivitas sama sekali. Jika kita hanya diam saja, tentu tidak baik juga untuk perkembangan si janin.

Apa sih yang mau saya ungkap dalam artikel ini? Saya hanyak ingin memberikan informasi yang mungkin semua sudah tau, namun ada juga yang tidak tau akan hal ini, jadi tidak ada salahnya jika saya membahas tentang membeli BAJU HAMIL secara online. Apa keuntungan jika kita membeli secara online jika dibandingkan dengan cara biasa yaitu pergi ke toko.

1. Tentu saja kita tidak perlu keluar rumah.
2. Kita bisa dengan leluasa melihat koleksi yang dimiliki suatu toko melalu gambar.
3. Harga yang relative lebih murah, apalagi kalau kita membeli GROSIR BUSANA MUSLIM, tentu harga yang di dapatkan akan semakin murah.
Dan masih banyak lagi keuntungan lain, yang akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Rabu, 28 April 2010

Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dan berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.

Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

"Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua," kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).

Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.

"Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus," katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.

Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).

Jumat, 23 April 2010

Pemda Harus Menajamkan Fokus Mitigasi

Pemerintah daerah harus menajamkan fokus mitigasi bencana terkait aktivitas gunung api. Dalam beberapa kejadian, pemerintah daerah kerap lekas panik menghadapi ancaman aktivitas vulkanik gunung api.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, Rabu (27/5), beberapa pemda kerap panik menghadapi ancaman vulkanik gunung berapi di daerahnya. Mereka seringkali mengabaikan rekomendasi dan berbuat lebih dari yang disarankan.

"Di antaranya, saat salah satu pemda membagikan masker kepada banyak kecamatan dan desa sebagai antisipasi hujan abu. Padahal, kenyataannya hanya beberapa desa dan kecamatan saja yang membutuhkannya," katanya.

Surono mengatakan, langkah ini sebenarnya baik bila dilihat sebagai langkah pengamanan. Namun, pemda harus melihat dan mengukur kemampuan mengelola kemungkinan kejadian bencana. Dikhawatirkan, pemda kehabisan tenaga dan motivasi justru ketika terjadi letusan. Bila hal ini terjadi, warga rentan menjadi korbannya.

Dikatakan, aktivitas gunung api, khususnya di Anak Krakatau dan Slamet, memang membutuhkan waktu yang lama. Anak Krakatau adalah gunung yang tengah tumbuh dan terus aktif sejak tahun 2007 lalu. Sedangkan Slamet adalah gunung berukuran besar sehingga butuh waktu lama mengeluarkan material vulkanik dari dalam tubuhnya.

"Meski dalam jangka waktu lama, ancaman bencananya tidak berubah. Langkah yang harus dilakukan pemda seharusnya ibarat lari marathon bukan lari cepat," katanya.

Oleh karena itu, ke depannya, ia mengharapkan pemda menajamkan langkah mitigasi. Di antaranya, mengikuti rekomendasi yang sudah ada dari PVMBG.

Rabu, 14 April 2010

Racun netral dengan air kelapa

Zat yang berbahaya bagi tubuh kita adalah racun, mendengar kata yang satu ini kayaknya agak seram dan menakutkan. Di dalam tubuh itu sudah pasti ada zat yang berbahaya dan tidak, maka dari itu kita sebagai manusia yang dianugrahkan kesehatan bersyurkurlah dan harus pandai dijaga. Sehat tidak bisa dibeli dengan uang semahal apapun. Nah, sekarang kamu semua ga perlu khawatir udah tau kan OBAT TRADISIONAL yang bisa meminimalisir racun dalam tubuh kita yakni air kelapa. Tak hanya digemari sebagai minuman segar pelepas dahaga saja tapi secara tidak langsung akan menetralizir racun di tubu kita.

OBAT HERBAL ini tidak perlu kita ragukan lagi, selain itu kalian sudah tahu belum kalau air kelapa yang muda bagus buat ibu – ibu hamil, tapi harus konsultasi ke dokter dulu jika sudah dikasi susu buat bumil (ibu hamil), maka dilarang konsumsi ini. Namun untuk kesehatan bumil tidak kalah pentingnya juga air kelapa tapi yang muda.

Selasa, 13 April 2010

Kehamilan Badak Sumatera Pecahkan Rekor 112 Tahun

Walaupun kelahiran anak Ratu, badak berusia 9 tahun berbobot sekitar 525 kg, diperkirakan bulan Mei 2011, berita kehamilan badak sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis dari sebuah desa di pinggiran Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, itu sudah mendunia dan disambut sukacita para penggiat konservasi di Indonesia dan dunia.


"Keberhasilan Ratu mengandung bayinya merupakan hasil kombinasi dari ilmu pengetahuan yang baik, kerja sama internasional antara pemerintah, LSM, dan kebun-kebun binatang, kerja sama yang erat dan waktu yang tepat, serta ketelatenan dari para personal di tempat penangkaran," kata Darori, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Jumat (19/2/2010) di Jakarta.

Pejantan badak sumatera yang menghamili Ratu adalah Andalas, yang juga berusia 9 tahun, dengan bobot sekitar 765 kg. Andalas lahir 13 September 2001 di Cincinnati Zoo, USA, dari perkawinan induk badak sumatera jantan bernama Ipuh dan badak betina bernama Emi. Pada Februari 2007, Andalas dikirim ke Indonesia dari Los Angeles Zoo, USA, dan ditempatkan di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung.

Andalas diperlakukan istimewa karena ia lahir dan besar di lingkungan yang bebas penyakit. Andalas diberikan berbagai vaksin khusus untuk melindunginya dari kemungkinan penyakit baru yang akan dia hadapi di hutan tropis rumah aslinya. Bahkan, agar terlindung dari gigitan lalat tabanid dan nyamuk hutan, ia dibuatkan kelambu raksasa.

Darori menjelaskan, sang calon bapak, Andalas, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan merupakan anak badak pertama yang dihasilkan dari penangkaran badak dalam waktu lebih dari 112 tahun. Adapun kehamilan Ratu merupakan yang pertama di Indonesia setelah lebih dari 112 tahun.

Menurut dia, terjadinya kandungan badak sumatera yang pertama ini, selain telah melalui proses yang panjang, bukanlah suatu kejadian yang biasa. Andalas dan Ratu dapat digabungkan atas kerja sama dan keinginan yang baik dalam rangka kerja sama internasional sebagai upaya menyelamatkan spesies yang terancam kepunahan.

Darori melukiskan, dari 38 kali perkawinan, belum terjadi fetus. Ketika terjadi fetus, ada empat kali keguguran. Tanggal 4 dan 5 Desember 2009, Andalas berhasil menaiki Ratu sebanyak 17 kali dan satu kali berhasil melakukan perkawinan yang sempurna setelah ereksi yang penuh pada Andalas, penetrasi yang sempurna, kemudian terjadi ejakulasi. Tanggal 22 Desember 2009, pemeriksaan USG dilakukan terhadap Ratu, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.

"Pada tanggal 24 dan 25 Desember, Andalas kembali digabungkan dengan Ratu dan terjadilah perkawinan sempurna di mana terjadi ereksi dan intromisi penuh selama 28 menit dan akhirnya terjadi ejakulasi,"ungkapnya.

Dokter Hewan Andriansyah yang menangani Ratu mengatakan, tanggal 29 Januari 2010 atau 16 hari setelah perkawinan Ratu dan Andalas, pemeriksaan USG pun dilakukan dan hasilnya menunjukkan adanya kantung embrio pada uterus kanan Ratu. Ratu kemudian diduga hamil.

"Ketika diperiksa USG lagi tanggal 16 Februari 2010, ditemukan gambar kantung embrio berukuran sekitar 20 x 24 mm disertai fetus dan tali pusar yang berkembang, dan Ratu dinyatakan bunting," paparnya.

Ketua Yayasan Badak Indonesia Widodo Ramono mengatakan, keberhasilan penangkaran spesies ini juga akan memberikan kemungkinan pembuatan suatu model program yang sama terhadap badak jawa. Populasi badak jawa saat ini diperkirakan sekitar 50 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon.

Jumat, 02 April 2010

Selama Hamil 15 Bulan, Ratu Dibiarkan Suka-Suka Dia

Selama masa kehamilannya, badak Sumatera betina bernama Ratu di penangkaran Suaka Rhino Sumatera Way Kambas, diberi perlakuan khusus untuk mengurangi resiko kegagalan kandungan. Namun, perlakukan khsuus bukan berarti hewan berkulit keras itu dibatasi ruang geraknya tapi justru diberi kebebasan.


Dokter hewan Ratu, Andriansyah mengatakan, kegagalan kandungan pada badak sangat mungkin terjadi di tiga bulan pertama kehamilannya. Ia mengatakan, ada beberapa faktor penyebab kegagalan kandungan badak seperti stres, lingkungan tempat tinggal yang terlalu sempit, dan jenis makanan yang kurang variatif.

"Secara fisiologi badak memang hamil 15 bulan seperti Emi di Cincinnati Zoo yang kegagalan karena di kebon binatang makanan yang diberikan tidak sevariatif di Way Kambas," katanya saat jumpa pers mengenai kehamilan Ratu di Kementrian Kehutanan, Jakarta, Jumat (19/2/2010).

Untuk mengurangi resiko kegagalan itu, pihak suaka membiarkan Ratu melakukan aktivitas yang ia sukai sebebas mungkin. "Kita coba biarkan Ratu terserah dia, apa mau ke hutan, ngubang atau cari makan lebih lama, terserah dia. Kita hanya memantau dari jarak kurang lebih 20 meter tingkah laku Ratu," ujar Andriansyah.

Selain itu, untuk mengurangi stres pada badak, pihak SRS Way Kambas selalu merelokasi area tinggal setiap badak setiap 3-4 bulan sekali. "Di SRS tiap badak menempati 10 hektar, 3-4 bulan direlokai 10 hektar lagi ke tempat yang baru," imbuh Andriansyah.

Mengenai kondisi kesehatan sang calon induk itu, Andriansyah menyampaikan bahwa saat ini kondisi kesehatan Ratu sangat baik. "Tiap kali pulang di kandang jam 7-8 malam, mungkin karena hamil, ada perubahan perilaku, Ratu lebih senang beraktifitas di hutan. Itu sangat baik karena dia badak asli hutan Way Kambas, jadi Ratu lebih tau makanan apa yang dia butuhkan," imbuhnya.

Ratu memang badak Sumatera asli Way Kambas. Ia keluar mengembara keluar Taman Nasional Way Kambas mencari air bersih ke desa Labuan Ratu di tengah kekeringan drastis 2006. Kala itu, Ratu sempat dikira babi raksasa dan dikejar-kejar penduduk. Untungnya, SRS Way Kambas berhasil menyelamatkan Ratu dan menangkarkannya.

Saat ini, Ratu mengandung anak Andalas, badak jantan yang lahir di kebun binatang Cincinnati Los Angeles pada 2001 dan dikirim ke Indonesia pada 2007 sebagai pejantan di SRS Way Kambas. Kehamilan Ratu dinilai sebagai suatu kesuksesan karena merupakan kehamilan pertama badak Sumatera di penangkaran. Seperti diberitakan, badak Sumatera adalah hewan soliter dan liar yang sulit dikembangbiakan. Jumlahnya pun saat ini hanya sekitar 200 ekor di seluruh dunia.

Kamis, 11 Maret 2010

Orangutan, Tuan yang Pilu di Rumah Sendiri (1)


Orangutan yang hanya segelintir di dekat Kota Ketapang, Kalimantan Barat, sepertinya bakal bernasib mengenaskan. Pasalnya, sejalur jumbo atau jalan baru yang dibuat dengan ekskavator telah mengancam habitat orangutan di perhuluan Sungai Sentap.

"Sepertinya jumbo itu merupakan jalan as dari rencana perkebunan kelapa sawit di daerah gambut itu," kata Yan Sukanda (45) etnomusikolog, pendidik, pemerhati kebudayaan, dan lingkungan hidup.

Yan yang tinggal di Ketapang, Kalimantan Barat, ini merasa miris melihat kelestarian areal tersebut mulai terancam. Ia bersama sejumlah aktivis Flora Fauna Indonesia terakhir kali berkunjung ke sana pada 7 Februari lalu.

"Dua pekan lalu, saya dan teman-teman berniat menjenguk induk orangutan yang tengah mengasuh bayinya. Kami berangkat sore hari, tapi sayang hanya menemukan sarang mereka yang masih baru," tutur Yan.

Lebih mengagetkan lagi, selang 1,5 kilometer dari lokasi sarang, mereka tiba-tiba sudah berada di penghujung hutan. Bagian yang seharusnya berada di tengah rimba sudah dilintangi jumbo. Mirisnya, area yang menjadi habitat orangutan itu sama sekali tidak dikelola pemerintah. Justru penebangan hutan untuk membuka kebun sawit, pelan tetapi pasti, semakin menghabiskan areal rimba.

Yan mengatakan, rimba itu terletak di perhuluan Sungai Sentap, persis di pinggiran jalan jalur Sungai Awan-Tanjung Pasar. Jarak tempuh sekitar 10 km dari kampung Sungai Awan atau sekitar 20 kilometer dari Kota Ketapang.

Menurut Yan, orangutan yang pernah mereka jumpai diperkirakan hanya empat ekor. Mereka mendapat informasi keberadaan satwa langka tersebut dari Bosman (60), petani dan gembala di kawasan sekitar hutan itu.

"Pak Bosman selalu memberikan informasi kehadiran orangutan di dekat pondoknya. Kata dia, saat ini ada dua induk orang utan yang sedang mengasuh anaknya. Kami ingin melihat dan mengabadikan momen itu," ujar Yan.

Di lokasi itu pula, Yan bersama rekan-rekannya sering melakukan pengamatan terhadap primata yang hidup di sana. Mereka mendirikan Camp Orangutan, yang disingkat Camp Orut, dengan bantuan Yayasan Palung.

Senin, 08 Maret 2010

Orangutan, Tuan yang Pilu di Rumah Sendiri

Area rimba gambut di hulu Sungai Sentap, Ketapang, Kalimantan Barat itu, ternyata tak hanya habitat orangutan, tetapi juga diduga bekas permukiman kuno kisaran ratusan tahun silam, menyimpan kekayaan budaya tak ternilai.

Yan Sukanda seorang etnomusikolog dan pengamat lingkungan menuturkan, setahun lalu di lokasi tersebut hutan primernya masih sangat baik. Bentuknya berupa tanah 'pematang' yang membujur memanjang. Panjang bujuran pematang diperkirakan sekitar 5 kilometer, dan lebarnya sekira 500 meter. Pematang ini berada sepanjang hutan di tanah gambut.

"Di tengahnya ditemukan kumpulan pecahan keramik, seperti mangkok, piring, dan mungkin tempayan. Daerah ini mungkin pernah jadi tempat pemukiman ratusan tahun lalu," ujar Yan.

Pohon tengkawang dan pohon asam lembawang banyak ditemui, menjulang tinggi dengan kerimbunan alami. Dua jenis pohon itu lekat sekali dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedalaman.

Tetapi, dua pekan lalu, ditemukan suasana yang telah berubah. Sejalur jumbo atau jalan as untuk proyek perkebunan sawit, telah melintangi area itu.

"Setahun lalu kami ke area itu, berjumpa induk orangutan muda. Belakangan, Pak Bosman (penggembala) yang tinggal di sekitar area memberitahu, orangutan itu kini sudah punya bayi. Sayangnya kami hanya menjumpai sarang mereka," tutur Yan yang mulai mengenal areal itu sejak 2003.

Setiap berkunjung ke hutan itu, Yan biasanya membawa serta beberapa murid, rekan-rekan pencinta alam, atau siapa pun yang punya kepedulian. Mereka membawa global positioning system (GPS) untuk menentukan titik koordinat hutan, maupun kamera video.

Dari pengamatan mereka, primata yang masih ada dan pernah ditemukan seperti orangutan (pongo pygmaeus), kelempiau (hylobates muelleri), bentangan (nasalis larvatus), kelasi, kera (macaca fascicularis), beruk, dan lutung.

Kini, lokasi itu dalam persiapan perkebunan kelapa sawit. Banyak warga masyarakat yang mulai berebut mengkapling tanahnya.

"Sebenarnya, tempat itu sangat damai. Aku dan teman-teman senang ke situ, bermalam di Camp Orut. Mengamati hewan primata terutama orangutan. Kami hanya volunteer yang melakukan pengamatan, mengampanyekan, dan menyerukan perlindungan lokasi itu," ujar Yan.

Untuk mendatangi tempat, mereka hanya bisa menggunakan sepeda motor. Saat hujan jalannya cukup licin.

Jika sedang tak beruntung, sosok orangutan hanya bisa terlihat samar di ketinggian pohon dan sela dedaunan rimbun. Sementara yang paling sering dijumpai yakni primate jenis kera, kelasi, dan lutung.

Sabtu, 06 Maret 2010

Deforestasi Ancam Satwa Endemik

Hutan di Pulau Jawa terus terancam deforestasi. Hal ini dinilai akan mengancam kehidupan masyarakat dan kelestarian satwa endemik Jawa.

Berdasarkan data laju deforestasi (kerusakan hutan) Departemen Kehutanan periode 2003-2006, diketahui laju deforestasi di Pulau Jawa sebesar 2.500 hektar per tahun (0,2 persen) dari total deforestasi di Indonesia. Laju deforestasi di Indonesia sebesar 1,17 juta hektar per tahun.

Profauna mengajak masyarakat menyadari bahwa kondisi hutan di Pulau Jawa sangat terancam. ”Tanggung jawab pelestarian bukan hanya pada pemerintah, melainkan juga masyarakat secara luas,” kata juru kampanye hutan Profauna, Radius Nursidi, Senin (22/2/2010) di Malang, Jawa Timur.

Terkait hal itu, Profauna menggelar unjuk rasa di Jalan Simpang Balapan, Kota Malang. Sejumlah anggota Profauna berdiri bagai pohon, berjajar menghadap jalan sambil membawa tulisan ”Save Forests in Java”.

”Rata-rata deforestasi hutan terjadi karena perambahan untuk ladang atau dijadikan lokasi pabrik. Hal ini menyebabkan bencana banjir atau tanah longsor, seperti yang terjadi di Pujon dan Cangar (Malang),” katanya.

Dampak buruk lain akibat kerusakan hutan adalah terancamnya kelestarian satwa endemik Jawa, misalnya lutung jawa (Trachypithecus auratus), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), macan tutul (Panthera pardus), elang jawa (Spizaetus bartelsi), dan merak (Pavo muticus), akibat hutan yang menjadi habitat mereka rusak.

Direktur Profauna Malang Rosek Nursahid mencontohkan, populasi lutung jawa di Malang Raya saja terus merosot. Sekitar 15 tahun lalu di sekitar Pegunungan Panderman, Batu, ditemukan lebih dari lima kelompok lutung jawa (setiap kelompok terdapat 5 hingga 25 ekor). Kini lutung jawa tidak lagi ditemukan.

Di lokasi lain, lereng timur Gunung Arjuno, 15 tahun lalu Rosek menemukan 7 hingga 10 kelompok lutung jawa. Sekarang jumlahnya tidak lebih dari dua kelompok.

Padahal, lutung jawa merupakan indikator tingkat kerusakan hutan. Lutung jawa dikenal sebagai binatang dengan sensitivitas tinggi, yang hanya bisa hidup di hutan dengan kondisi masih bagus, makanan masih banyak, minim aktivitas manusia, dan masih banyak pohon.

”Lutung jawa jenis binatang arboreal (hidup di atas pohon). Kalau vegetasi sudah rusak, lutung tidak akan bisa bertahan,” katanya. Lutung juga banyak ditangkap untuk dimakan sebagai obat peningkat stamina.

Kamis, 04 Maret 2010

Tindak Industri CPO Ilegal

Pemerintah harus menindak tegas industri minyak kelapa sawit mentah yang membangun perkebunan di kawasan hutan dan melanggar hukum. Tanpa keseriusan penegakan hukum, berbagai upaya kampanye positif untuk meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia memproduksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) lestari bakal sia-sia.

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi di Jakarta, Selasa (23/2/2010), mengungkapkan, Indonesia tak layak membanggakan diri sebagai produsen CPO terbesar dunia. "Pemerintah Indonesia harus introspeksi diri. Bagaimana Indonesia bisa menjadi produsen CPO terbesar dengan tetap membiarkan perkebunan kelapa sawit beroperasi di kawasan hutan secara ilegal," ujar Elfian.

Sebagian perkebunan, kata Elfian, hanya mengandalkan izin prinsip kepala daerah tanpa mengurus izin pelepasan hak kawasan hutan dari Menteri Kehutanan. Kondisi ini semakin diperparah dengan perambahan hutan lindung dan kawasan konservasi untuk pembangunan perkebunan.

Indonesia memiliki 7,5 juta hektar perkebunan kelapa sawit dan memproduksi 20,7 juta ton CPO. Sedikitnya 5,5 juta ton diserap pasar dan sisanya diekspor dengan nilai 13 miliar dollar AS tahun 2009.

CPO merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Walau demikian, dunia internasional terus menuntut produksi CPO tidak merugikan lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

Elfian mengatakan, nilai ekonomi CPO yang tinggi tidak boleh menjadi dalih pemerintah mengabaikan kelestarian lingkungan. "Jangan sampai kerusakan lingkungan malah menghancurkan seluruh investasi masyarakat, swasta, dan pemerintah yang sudah ada akibat penegakan hukum lemah," ujar Elfian.

Seperti diberitakan Kompas (22/2/2010), perkebunan kelapa sawit ilegal di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mencapai 2 juta hektar. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan, pihaknya akan memperkarakan pelanggaran kawasan hutan secara hukum.

Berdasarkan data rekalkulasi penutupan lahan Kemenhut (2008), di Pulau Sumatera dan Kalimantan, tutupan lahan berupa tegakan perkebunan di kawasan hutan mencapai 3,5 juta hektar.

Industri kelapa sawit dunia sebenarnya sudah mengedepankan prinsip kelestarian. Produsen CPO, industri pengolahan, organisasi nonpemerintah lingkungan, dan para pemangku kepentingan kelapa sawit mendirikan forum Meja Bundar Minyak Sawit Lestari (Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO) untuk menyusun standar CPO lestari.

Menteri Pertanian Suswono dalam berbagai kesempatan menekankan, Indonesia berkomitmen mengembangkan CPO lestari sesuai asas dan standar yang ada. Indonesia kini tengah mengembangkan standar minyak sawit lestari.

Salah satu cara mengembangkan tolok ukur standar CPO lestari adalah mempertemukan para pemangku kepentingan kelapa sawit dengan aktivis lingkungan dalam International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) 2010 di Nusa Dua, Bali, Selasa-Kamis (23-25/2/2010). Presiden Direktur SMART Daud Dharsono menegaskan, konferensi yang menghadirkan para ahli kelapa sawit dari berbagai sisi diharapkan mampu menyusun tolok ukur yang lebih akurat dan adil untuk produksi CPO yang lestari.

Selasa, 02 Maret 2010

F-111 Kobarkan Api di Ekornya

Meski merasakan dampak krisis ekonomi pada tahun 2009, industri kedirgantaraan dunia tetap optimistis. Salah satu buktinya adalah hadirnya perusahaan kedirgantaraan utama dunia, seperti Boeing, Airbus, Lockheed Martin, di Pameran Kedirgantaraan Singapura yang dibuka hari Selasa (2/2/2010) oleh Wakil Perdana Menteri Teo Chee Hean.

Meski raksasa penerbangan hadir, jumlah peserta - seperti diakui Jimmy Lau, Direktur Singapore Airshow kepada Show Daily - itu hanya 85 persen dari jumlah peserta tahun 2008. Kini jumlah peserta yang ikut pameran berjumlah 820, terbagi hampir sama antara perusahaan penerbangan sipil dan militer.

Boeing, pabrikan Amerika yang produknya malang-melintang di dunia, mengakui, tahun 2009 merupakan tahun paling buruk dari sisi bisnis sejak tahun 1971. Namun, bersama pesaing utamanya dari Eropa, Airbus, Boeing tetap hadir secara masif. Penerbangan perdana pesawat terbarunya, Boeing 787 Dreamliner Desember lalu, memberi tambahan keyakinan untuk menyongsong masa depan.

Dari sisi wilayah pemasaran, oleh para industrialis penerbangan Asia-Pasifik tetap diakui sebagai wilayah berprospek cerah. Tom Enders, CEO Airbus, bahkan menyebut kawasan ini kunci masa depan Airbus. Untuk tahun 2010, Airbus berharap bisa mengantongi 250-300 pesawat, kata Direktur Pemasaran Airbus John Leahy, seperti dikutip Singapore Airshow News kemarin.

Keyakinan mengenai Asia Pasifik bukan saja untuk pasar pesawat komersial, melainkan juga untuk pesawat militer. Angkatan udara negara-negara di kawasan ini dicatat masih terus memesan pesawat militer, baik jenis tempur, latih, maupun angkut, dari Jepang hingga Australia.

Melengkapi penjajakan di dalam gedung pameran, juga di chalet (tempat perusahaan peserta menerima tamu undangan), di langit terbuka diadakan demo penerbangan oleh pesawat militer dan helikopter.

Pesawat veteran Perang Teluk A-10 Thunderbolt, atu dijuluki Warthog yang dikenal sebagai pembunuh tank, tampil untuk pertama kali di arena Singapura. Dalam salah satu manuvernya diperlihatkan bagaimana ia menukik untuk memburu sasaran lapis baja dengan meriam Avenger raksasa di mulutnya.

Bintang pameran sendiri masih milik pesawat era Perang Vietnam milik AU Australia, yakni F-111. Jet pengebom taktis bersayap ayun ini, sebagaimana pada pameran tahun 2008, tampil dengan membakar bahan bakar yang ia buang sehingga menimbulkan kobaran api di arah ekornya. Karena Royal Australian Air Force akan memensiunkan jet yang sempat dijuluki Peti Mati Terbang ini, maka penampilan kali ini merupakan yang terakhir bagi F-111 di luar Australia.

Penerbangan hijau

Seiring menguatnya isu lingkungan, Selasa siang dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia dan IATA (Asosiasi Angkutan Udara Internasional).

Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar menyebutkan, Garuda Indonesia akan bekerja sama dengan IATA untuk sistem offset (penebusan) karbon. Nantinya, penumpang bisa memilih membayar kompensasi atas emisi karbon yang ditimbulkan penerbangannya. Seperti dijelaskan VP Corporate Communication Garuda Pujobroto pada siaran persnya, Garuda Indonesia menjadi maskapai penerbangan Asia yang bergabung dalam program offset karbon ini.

Minggu, 21 Februari 2010

Toko busana muslim lengkap

Berbelanja akhir pecan saya sangat senang saat mengunjungi toko yang ada di daerah Surabaya, saat saya liburan kesana. Sangan lengkap persediaan BUSANA MUSLIM disana. Apalagi saya mengajak suami saya beserta anak- anak saya, keduanya sangat exciting saat memasuki wilayah tersebut. Lengkap dan harganya masih bisa dijangkau masyarakat kalangan ekonomi menegah ke bawah. BAJU MUSLIM yang saya suka adalah lengan panjang yang berenda di bagian leher, serta aksen bordiran di bagian kancingnya.

Hal yang membuat saya senang ketika saya mencari dan ngebet pengen baju tersebut ada. Lalu tidak ketinggalan saya membeli jilbab, agar tidak nanggung saya liburan jauh – jauh. Begitu juga anak saya membeli lengkap. Dia sangat senang, alhasil kami membawa pulang banyak pakaian namun dengan kantong tetap eksis. Saya senang juga dengan owner toko tersebut, sangat ramah menyapa pengun jung. Itu yang membuat juga libiran saya berkesan. Andai nanti saya bisa liburan lagi, saya akan kembali lagi ke toko ini.

Sabtu, 06 Februari 2010

Gunung Honje Jadi Pusat Pembiakan Badak Jawa


Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) akan mengembangkan penangkaran badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di blok Gunung Honje seluas 3.000 hektar tahun 2011 dan dipastikan tahun 2015 sudah memiliki keturunan, kata pejabat TNUK.

"Penangkaran badak jawa itu akan dijadikan taman marga satwa dunia (TMSD) dan bisa mendongkrak pengunjung domestik maupun mancanegara," kata Kepala Bagian Humas TNUK Enjat Sudrajat, Selasa (23/2/2010).

Ia mengatakan, penangkaran ini bekerja sama dengan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dunia juga akan membantu, seperti dari Executive Director International Rhino Foundation Susie Eliis, Kimsei Vier (Tulsa Zoo), dan Ruchweet (Miami). Mereka akan membantu penangkaran pengembangbiakan badak bercula satu yang langka di dunia itu.

Saat ini, kata dia, diperkirakan populasi badak jawa di TNUK lebih kurang hanya 60 ekor. "Dengan penangkaran ini diharapkan jumlah populasi badak bercula satu bertambah," katanya.

Selama ini, kata dia, habitat populasi badak jawa berada di lahan seluas 38.000 hektar kawasan TNUK, termasuk Gunung Honje. "Saya kira bila di lokasi Gunung Honje tentu sangat cocok selain tersedia pakannya, juga lokasi tidak berjauhan," katanya.

Menurut dia, dengan upaya pelestarian badak jawa ini, diharapkan Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglang harus mendukung karena dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru. Apalagi, kata dia, satwa badak jawa sudah dijadikan maskot Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Pengembangbiakan satwa langka di dunia ini melibatkan sejumlah peneliti dari beberapa negara untuk mengadakan konservasi di habitatnya di kawasan hutan TNUK, katanya. Bahkan, para donatur dari Amerika Serikat sudah siap memberikan bantuan untuk penangkaran pengembangbiakan badak jawa itu di TNUK.

Bantuan tersebut dipergunakan untuk biaya operasional konservasi, monitoring, serta perlindungan badak. "Saya kira diperkirakan biaya penelitian ini memakan biaya cukup besar," katanya.

Selama ini, kata Enjat, di dunia peneliti genetik badak masih sangat kecil, apalagi satwa itu pemalu dan sulit ditemukan di habitatnya. Oleh karena itu, pihaknya harus hati-hati dengan program penelitian karena saat ini populasi badak jawa di TNUK hanya 60 ekor.

"Jika penangkaran itu berhasil, tentu pengunjung bisa melihat langsung kehidupan badak sebab saat ini warga belum mengetahui keberadaan badak jawa itu," kata Enjat Sudrajat.

Sekretaris Yayasan Badak Indonesia Agus Darmawan mengaku optimististis penangkaran pengembangbiakan akan suskes dan terwujud tahun 2011 karena melibatkan tim peneliti yang mengetahui persis karakteristik badak. Saat ini, lanjut dia, populasi badak yang ada di dunia sebanyak lima spesies, yakni badak hitam (Diceros bicornis), badak putih (Ceratotherium simum), badak india (Rhinoceros unicornis), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus).

"Saya yakin TNUK akan berhasil mengembangbiakkan badak jawa," katanya.

Jumat, 05 Februari 2010

Indonesia Tuan Rumah Pertemuan Menteri LH Global

Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan ke-11 Special Session of The UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum (GC-UNEP) pada tanggal 24-26 Februari mendatang, di Bali.

Pertemuan ini merupakan pertemuan konsultasi tingkat menteri dari seluruh negara yang tergabung dalam PBB, dan melakukan review pada isu-isu kebijakan bidang lingkungan hidup global.

Sebanyak 44 menteri lingkungan hidup dijadwalkan akan menghadiri pertemuan yang diperkirakan diikuti oleh sekitar 1.500 orang peserta dari 101 negara.

Menteri Lingkungan Hidup Gusti M Hatta menyatakan, kesempatan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat dunia ini merupakan kehormatan bagi Indonesia. Apalagi, pertemuan ini merupakan pertemuan menteri lingkungan hidup pertama pasca-KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, pada Desember 2009 lalu.

"Ini menunjukkan citra kita bagus dalam komitmen yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan," ujar Gusti, dalam jumpa pers di Kementerian Lingkungan Hidup, Selasa (16/2/2010) sore.

Pertemuan yang akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini bertema "Environment in the Multilateral System" dan akan membahas tiga bahasan pokok. Pertama, International Environmental Governance (IEG) and sustainable development.

Pembahasan mengenai keanekaragaman hayati dan hasil dari tiga pertemuan sebelumnya di Basel, Rotterdam dan Stockholm. Bahasan kedua mengenai green economy yang berisi perkembangan komprehensif konsep green economy di berbagai negara.

"Saat ini orientasi pembangunan juga harus berorientasi lingkungan. Dalam pertemuan ini, perkembangan mengenai konsep green economy akan dibahas mendalam," kata Gusti.

Bahasan ketiga adalah "Biodiversity and Ecosystem". Dijelaskan Gusti, pada tahun 2010 ini Indonesia juga menetapkan sebagai tahun keanekaragaman hayati.

Pertemuan ini dinilainya bermanfaat untuk mencapai target tersebut dalam mengimplementasikan keputusan yang terkait pelayanan keanekaragaman hayati dan ekosistem.

Gusti mengharapkan, pertemuan tingkat menteri lingkungan hidup ini bisa menghasilkan draft Deklarasi Nusa Dua dan rancangan keputusan mengenai kelautan. Para menteri juga dijadwalkan melakukan pertemuan informal untuk membahas tindakan pencegahan perubahan iklim pasca COP15 Kopenhagen, menuju COP16 di Meksiko pada akhir 2010 mendatang.

Rabu, 03 Februari 2010

192 Negara Ikuti Konferensi Lingkungan di Bali

Sebanyak 192 negara menghadiri pertemuan ke-11 Special Session of the UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum (GC-UNEP) yang dibuka oleh Menteri Lingkungan Hidup Prof Dr Ir Gusti Muhammad Hatta, MS di Nusa Dua Bali, Senin (22/2/2010).

Dalam pertemuan ini, tiga hal utama yang menjadi pembahasan adalah kebijakan lingkungan internasional atau international environmental governance dan pembangunan berwawasan lingkungan (sustainable development), serta ekonomi hijau, ekosistem, dan keanekaragaman hayati (the green economy, biodiversity, and ecosystems).

Bagi Indonesia, pertemuan ini diharapkan dapat memberi beberapa keuntungan, di antaranya mendapatkan bantuan dari UNEP untuk peningkatan kapasitas dalam kaitannya dengan the economics ecosystems and biodiversity khususnya bagi pemerintah daerah, serta pembahasan hukum lingkungan (enviromental law) untuk menyepakati dua buah draf pedoman yang disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan nasional.

"Krisis global saat ini, yakni krisis ekonomi dunia dan krisis perubahan iklim, memberikan pelajaran yang berharga kepada seluruh bangsa di dunia. Krisis global hanya menyediakan pilihan untuk merubah pola pembangunan menjadi pembangunan yang tidak berpihak kepada pro-growth, namun juga pro-poor, pro-job, dan pro-environment," ujar Gusti Muhammad Hatta.

Dari pertemuan ini juga diharapkan dapat dihasilkan dua kesepakatan, yaitu Decision on Ocean yang merupakan tindak lanjut dari Manado Ocean Declaration dan Nusa Dua Declaration yang merupakan pesan politis tingkat tinggi.

Selasa, 02 Februari 2010

Walhi Meminta Kasus PT RAPP Dilanjutkan

Walhi meminta Kepolisian RI untuk melanjutkan kasus pembalakan liar yang dilakukan oleh PT RAPP di kawasan Sumatera. "Kami berharap agar kasus illegal logging PT RAPP di tahun 2007 yang telah di SP3-kan oleh Polda Riau dapat dilanjutkan kembali," ujar Mukri, Direktur Regional Sumatera saat diwawancari ketika melakukan unjuk rasa di depan Mabes Polri, Jakarta, Selasa (23/02/2010).

"Kami juga berharap agar izin PT.RAPP segera dicabut karena telah melanggar aturan," tambah Mukri.

PT RAPP mengantongi izin selama 100 tahun, sedangkan menurut Mukri ijin seharusnya hanya 25 tahun saja. Walhi pun menyatakan, PT RAPP telah mengambil kayu di luar wilayah konsesinya, bahkan mengambil hingga ke hutan lindung.

Unjuk rasa ini adalah yang keempat kalinya, setelah tiga unjuk rasa sebelumnya dilangsungkan di Dephut, PT.RAPP, dan KPK. Setelah unjuk rasa yang pertama, tujuh truk milik PT.SRL yang merupakan anak perusahaan PT.RAPP, telah ditahan karena melakukan pembalakan liar.

Selasa, 12 Januari 2010

Dari "Armageddon" ke "Snowmageddon"

Pada puncak era Perang Dingin tahun 1980-an, istilah armageddon sering muncul. Ringkas kata, di luar kaitannya dengan sejarah agama-agama, ini adalah pertempuran habis-habisan dengan menggunakan senjata nuklir milik AS dan Uni Soviet yang jumlahnya saat itu sangat banyak. Dengan hulu ledak sekitar 50.000, dayanya sudah berlebih untuk overkill, menghancurkan dunia berulang kali.

Armageddon juga menjadi judul film yang dibintangi Bruce Willis (1998). Film ini berkisah tentang kiamat yang akan dialami Bumi dan penghuninya apabila asteroid seukuran Texas yang orbitnya melenceng dibiarkan menghantam Bumi (Dalam dunia nyata, ancaman ini, meski jarang, selalu ada. Bila jatuh di lautan, hantaman benda angkasa besar ini bisa menimbulkan apa yang dikenal sebagai tsunami kosmik).

Armageddon Perang Dingin bisa membuahkan musim dingin nuklir, sebagaimana bencana global serupa yang pernah dialami Bumi sekitar 65 juta tahun silam, yang dipercayai lalu melenyapkan dinosaurus.

Kini, istilah mirip dengan armageddon muncul lagi, tetapi termodifikasi jadi snowmageddon. Melihat istilah itu, asosiasi kita pun melayang ke bencana yang ditimbulkan oleh badai salju yang luar biasa. Tidak salah lagi, itulah istilah yang dicetuskan oleh Presiden AS Barack Obama tanggal 6 Februari lalu saat mengomentari badai salju yang membungkus dan melumpuhkan ibu kota AS, Washington DC.

Dalam konteks perubahan iklim dan pemanasan global sekarang ini, snowmageddon sulit dipisahkan dari fenomena cuaca ekstrem yang beberapa waktu terakhir ini banyak menjadi berita dunia.

Sejumlah kalangan di AS menjadikan snowmageddon untuk menegaskan lagi bahwa perubahan iklim itu benar-benar sudah terjadi walaupun sebagian justru percaya sebaliknya, pemanasan global itu omong kosong. Terhadap kalangan ini, Eugene Robinson dalam komentarnya di harian The Washington Post (The Jakarta Globe/JG, 20/21/2) menyebut, data awal suhu rata-rata untuk bulan Januari lebih hangat dari biasanya. Peserta karnaval tahunan di Rio de Janeiro menyatakan, terik matahari kali ini sungguh tidak biasa.

Dekade terpanas

Apakah perasaan ”lebih panas dari biasa” atau ”lebih panas dari tahun-tahun sebelum ini” sekadar perasaan atau fenomena riil? Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) sudah memastikan, dasawarsa yang berakhir pada 2009 merupakan dekade terpanas dalam catatan rekor mutakhir. Badan ini juga menemukan bahwa tahun 2009 merupakan tahun kedua terpanas sejak tahun 1880 ketika pengukuran suhu modern dimulai (John Broder/International Herald Tribune/IHT, 23- 24/1). Menurut catatan, tahun paling panas adalah tahun 2005 dan tahun-tahun terpanas lain terjadi semenjak tahun 1998.

Laporan NASA di atas juga menjadi pendukung baru bagi fenomena pemanasan global meski disebut bahwa itu bukan kata akhir dalam memastikan bahwa suhu Planet Bumi akan terus naik (Direktur NASA James E Hansen dalam soal ini sering diserang oleh pihak yang skeptik terhadap pemanasan global. Ia disebut acap menggunakan data suhu secara selektif).

Namun, di luar skeptisme yang masih terus ada, faktanya tren kenaikan suhu tercatat 0,2 derajat celsius per dasawarsa dalam 30 tahun terakhir. Suhu global rata-rata sudah naik 0,8 derajat celsius sejak tahun 1880.

Pembuat kebijakan yang hadir di KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Desember lalu, menyepakati satu sasaran untuk menahan kenaikan suhu global rata-rata sampai 2 derajat celsius dalam upaya untuk menghindar dari efek pemanasan global yang paling buruk.

Di antara panas di Rio de Janeiro dan snowmageddon di Washington, ada laporan lain tentang kacau balaunya cuaca. Di Filipina, setelah berbulan-bulan dilanda taifun, negeri itu kini dilanda kekeringan. Gejala alam El Nino—yang sebelum ini sudah punya mekanisme sendiri—kini mengancam panen dan berikutnya juga bahan pangan serta penyediaan listrik. Yang terakhir ini disebabkan oleh langkanya air, membuat bendungan hidroelektrik tak bisa berfungsi normal.

Juru Bicara Presiden Gloria Macapagal-Arroyo, Jumat pekan silam, meminta rakyat Filipina menampung air bekas mandi supaya bisa dipakai untuk mengguyur toilet. (IHT, 20/21/2)

Pengalaman terakhir Filipina ini menggarisbawahi betapa perubahan iklim dan gangguan cuaca menimbulkan rentetan efek panjang, mulai dari sekadar kegerahan atau ketidaknyamanan cuaca hingga ke gangguan panen, kelangkaan pasokan air, dan pemadaman listrik.

Urgensi baru

Di AS, pihak yang skeptik pemanasan global bahkan sempat mengolok-olok Al Gore, tokoh yang banyak membangkitkan kesadaran masyarakat dunia akan fenomena itu melalui buku dan film An Inconvenient Truth. Ada juga senator yang—seperti dikutip Eugene Robinson—yakin bahwa salju akan terus turun sampai Al Gore mengaku keliru.

Akan tetapi, dengan dukungan bukti dari tempat-tempat lain, juga temuan NASA di atas, pengolok-olok pemanasan global sebaiknya segera sadar bahwa gejala itu bukan saja nyata, tetapi buktinya sudah bersama kita.

Mau tak mau, kita juga memperhitungkan gejala alam lain yang terjadi dalam tahun-tahun terakhir ini. Masih terngiang apa yang dikemukakan oleh Komisioner Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) yang juga mantan Perdana Menteri Portugal Antonio Guterres bahwa gempa bumi, siklon, tsunami, banjir, dan tanah longsor merupakan bencana alam yang frekuensinya lipat dua dalam dua dekade terakhir. Selain frekuensinya meningkat, katastrofi tersebut juga bertambah intensitasnya, meningkat daya penghancuran serta ancamannya terhadap kehidupan manusia. Pada tahun 2008, ada sekitar 36 juta orang yang tiba-tiba harus tergusur oleh fenomena alam ini, tambahnya (IHT, 11/12/09).

Semoga semua itu bisa menjadi bukti cukup untuk bertindak lebih giat lagi dalam memerangi pemanasan global yang banyak diyakini menjadi penyebab munculnya berbagai cuaca ekstrem yang hari-hari ini semakin sering kita amati.

Selasa, 05 Januari 2010

Presiden SBY Serukan Penyelamatan Bumi

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika membuka 11th Special Session of the Governing Council, Rabu (24/2/2010) di Nusa Dua, Bali, menyerukan penyelamatan bumi di hadapan lebih dari 30 menteri lingkungan dan sekitar 1.000 peserta yang datang dari 130 negara.

Presiden mengatakan, pertemuan yang berlangsung pada tanggal 24-26 Februari 2010 ini memiliki nilai strategis dan diharapkan mampu menjawab persoalan kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan. "Semoga pertemuan ini mampu memperbarui semangat untuk memelihara dan menjaga planet kita demi anak cucu," ujar Presiden.

Selain itu, Presiden mengatakan, melalui tema acara ini, "Environment in the Multilateral", sebuah kerja sama internasional diharapkan dapat digalang demi mencari solusi yang tepat bagi pembangunan yang berkelanjutan.

Presiden kemudian menjelaskan situasi terkini soal lingkungan hidup. Dikatakannya, dalam 12 tahun terakhir ini terjadi kenaikan suhu tertinggi sejak tahun 1850. Kenaikan suhu ini menyebabkan permukaan air laut meningkat. "Kenaikan ini berdampak negatif bagi jutaan orang yang hidup di bumi ini," ujar Presiden.

Saat ini, keanekaragaman flora dan fauna dunia juga terancam. Puluhan ribu spesies terancam hilang tak berbekas pada akhir abad ini. Presiden juga mengaku prihatin terhadap eksploitasi yang terjadi di laut. Eksploitasi ini dinilai mengganggu ekosistem dan mengurangi nilai ekonomi laut. Pada tahun 2008 lalu, nilai ekonomi laut yang hilang karena eksploitasi yang berlebihan mencapai 50 miliar dollar AS.

Minggu, 03 Januari 2010

Presiden: Tingkatkan Kapasitas UNEP

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku saat ini tengah khawatir mengenai proliferasi dan fragmentasi pada kesepakatan lingkungan multilateral pada tata kelola lingkungan global.

"Hal ini menyebabkan fungsi dari masing-masing kesepakatan itu tidak dapat berjalan optimal. Karena itulah, kita harus menguatkan koordinasi, koherensi, dan efektivitas tata kelola lingkungan global dalam sistem PBB. Kita juga harus memastikan efektivitas dan koherensi aksi global dalam mengatasi permasalahan lingkungan," ujar Presiden ketika membuka 11st Special Session of the Governing Council, Rabu (24/2/2010) di Nusa Dua, Bali.

Presiden melanjutkan, "Bagi kita, tidak ada pilihan lain kecuali meningkatkan kapasitas UNEP sebagai badan PBB yang bertanggung jawab langsung terhadap permasalahan lingkungan. Berikan mandat yang kuat terhadap UNEP. Berikan pula kewenangan dan tanggung jawab yang besar. Dan, berikan pula pendanaan yang cukup untuk menjalankan mandat dan tanggung jawabnya."

Sementara itu, SBY mengatakan, krisis keuangan dan resesi ekonomi global baru-baru ini tidak hanya berdampak negatif terhadap pembangunan, tetapi juga terhadap kemampuan untuk mengatasi permasalahan lingkungan.

SBY mengatakan, krisis memberikan pemahaman bahwa model pembangunan yang dilakukan selama ini tidak sesuai dengan situasi dan kebutuhan global. "Kita harus mendesain ulang model dan strategi pembangunan ekonomi global. Kita harus mengarahkan agar pembangunan dapat mendorong terjadinya pertumbuhan yang riil. Pembangunan yang menghasilkan struktur ekonomi yang tidak rapuh," imbuhnya.

Selain itu, pada saat yang bersamaan, SBY mengatakan bahwa para pemimpin harus selalu mempertimbangkan tingkat kerusakan lingkungan dan keberlangsungan kehidupan di planet ini. "Kita tidak boleh mewariskan planet Bumi yang rusak kepada anak cucu kita. Adalah tanggung jawab kita semua untuk mengatasi tantangan besar ini secara tepat, efektif, dan koheren," ujarnya.

Sabtu, 02 Januari 2010

Cermin dari Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan situasi yang saat ini kita hadapi dan tidak dapat ditawar lagi kecuali dengan meredam lajunya. Adalah dengan memahami proses- proses yang terjadi di alam, wawasan kita dapat dibuka tentang bagaimana dan mengapa iklim itu berubah.

Dari situ kita akan sadar bahwa secara alamiah iklim itu memang akan berubah walau tanpa campur tangan manusia. Dan, dengan adanya aktivitas manusia, berawal dari revolusi industri hingga kini, iklim berubah dengan drastis.

Mungkin semua orang tahu bahwa penyebab utama perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di udara yang menyebabkan temperatur di permukaan bumi meningkat.

Hampir semua negara di dunia berusaha untuk menurunkan emisi GRK-nya masing-masing walau dengan perdebatan yang cukup alot mengenai besaran yang harus diturunkan. Dan, menurut hemat saya, hal tersebut cukup sulit karena banyak faktor yang harus dipantau dan dievaluasi, serta yang jelas harus ilmiah.

Kita mungkin paham bahwa hutan kita adalah paru-paru dunia dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO) sehingga kita berusaha untuk menjaga hutan agar tetap hijau dan menghijaukan area terbuka.

Namun, belum banyak yang paham bahwa perairan kita yang sangat luas itu juga memiliki potensi dalam mengatur kesetimbangan CO di atmosfer. Potensinya adalah dapat sebagai penyimpan dan atau penyumbang CO. Tetapi, kita belum tahu persis potensi yang mana yang kita miliki.

Ekosistem perairan

Di sini saya sedikit mengulas bagaimana ekosistem perairan selain lautan, yaitu danau dan waduk, dan apa kaitannya dengan emisi GRK. Indonesia memiliki 521 danau alami, terbanyak di Asia Tenggara, dan lebih dari 100 waduk.

Danau dan waduk adalah ekosistem yang menerima input materi dari ekosistem daratan, termasuk di dalamnya karbon. Apabila materi tersebut adalah makhluk hidup atau sisa dari makhluk hidup, suatu saat materi tersebut akan terdegradasi menghasilkan inorganik karbon yang salah satunya adalah CO.

Memang benar, material organik tadi dapat terbenam di dasar danau, tetapi hampir semua danau yang ada di Indonesia dapat mengalami pengadukan sempurna sehingga CO dan material lainnya di dasar itu mampu kembali ke permukaan. Adanya aktivitas fotosintesis-respirasi memengaruhi CO di permukaan, tetapi tidak cukup signifikan karena keduanya berada cukup seimbang.

Lebih lanjut jika konsentrasi CO di lapisan permukaan air sangat tinggi dan jenuh, CO akan terlepas ke udara.

Secara global Cole dkk. (1994) menghitung bahwa sekitar 87 persen dari 4.665 danau—termasuk waduk—yang ada di dunia (sekitar 2 x 106 kilometer persegi) berpotensi menyumbang CO ke atmosfer dengan total kisaran 0,14 x 1.015 gram karbon per tahunnya. Sayangnya mereka tidak merekam danau-danau di Indonesia yang sedemikian banyaknya (± 3 persen luas total daratan) dengan masing-masing karakternya.

Hasil kalkulasi saya, berdasarkan data dari Lehmusloto dkk (1997), yang pernah meneliti sangat banyak danau di Indonesia, danau-danau di Indonesia memiliki tekanan parsial CO (pCO) sebesar 194,79 µatm-947,49 µatm dan waduk sebesar 102,19 µatm-843,38 µatm. Artinya, danau dan waduk di Indonesia memiliki potensi yang sama dalam mengikat dan melepaskan CO ke udara.

Namun, kisaran pCO danau dan waduk di Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan danau di belahan bumi lainnya. Danau-danau di Afrika memiliki pCO hingga 59.900 µatm, hampir 60 kali lipat danau-danau di Indonesia.

Danau dan waduk hanyalah salah satu bagian dari siklus karbon yang mungkin terlewatkan dalam pemikiran kita untuk menurunkan GRK. Wajib dipahami bahwa untuk menurunkan emisi GRK kita haruslah menelaah semua segi kehidupan, termasuk perilaku kehidupan sehari-hari karena manusia merupakan pemeran utama dalam beberapa siklus yang ada di muka bumi.

Sumbangsih danau pada emisi GRK di udara bertolak secara alamiah. Namun, pengelolaan danau yang salah arah dapat menyebabkan danau itu berperan sebagai penghasil GRK yang sangat potensial. Cukup banyak danau dan waduk di Indonesia yang mengalami tekanan lingkungan sehingga memiliki potensi melepas GRK dalam jumlah yang besar.

Material organik, seperti sisa aktivitas pertanian, pakan ikan, lumpur, dan pencemar lainnya sangat berpotensi untuk terdegradasi menjadi GRK. Memang, perlu ada penelitian lebih lanjut dan detail pada ekosistem ini agar peran masing-masing dapat lebih dipahami.

Namun, peran serta seluruh pihak, baik dari masyarakat, pemerhati maupun pemerintah sangatlah dibutuhkan dalam menyikapi isu perubahan iklim ini. Dan, menurut hemat saya, danau dan waduk adalah cermin keberhasilan usaha kita semua dalam memperbaiki kualitas lingkungan yang bermanfaat untuk menurunkan emisi GRK.