Pemerintah daerah harus menajamkan fokus mitigasi bencana terkait aktivitas gunung api. Dalam beberapa kejadian, pemerintah daerah kerap lekas panik menghadapi ancaman aktivitas vulkanik gunung api.
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, Rabu (27/5), beberapa pemda kerap panik menghadapi ancaman vulkanik gunung berapi di daerahnya. Mereka seringkali mengabaikan rekomendasi dan berbuat lebih dari yang disarankan.
"Di antaranya, saat salah satu pemda membagikan masker kepada banyak kecamatan dan desa sebagai antisipasi hujan abu. Padahal, kenyataannya hanya beberapa desa dan kecamatan saja yang membutuhkannya," katanya.
Surono mengatakan, langkah ini sebenarnya baik bila dilihat sebagai langkah pengamanan. Namun, pemda harus melihat dan mengukur kemampuan mengelola kemungkinan kejadian bencana. Dikhawatirkan, pemda kehabisan tenaga dan motivasi justru ketika terjadi letusan. Bila hal ini terjadi, warga rentan menjadi korbannya.
Dikatakan, aktivitas gunung api, khususnya di Anak Krakatau dan Slamet, memang membutuhkan waktu yang lama. Anak Krakatau adalah gunung yang tengah tumbuh dan terus aktif sejak tahun 2007 lalu. Sedangkan Slamet adalah gunung berukuran besar sehingga butuh waktu lama mengeluarkan material vulkanik dari dalam tubuhnya.
"Meski dalam jangka waktu lama, ancaman bencananya tidak berubah. Langkah yang harus dilakukan pemda seharusnya ibarat lari marathon bukan lari cepat," katanya.
Oleh karena itu, ke depannya, ia mengharapkan pemda menajamkan langkah mitigasi. Di antaranya, mengikuti rekomendasi yang sudah ada dari PVMBG.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar