Armageddon Armageddon Kini, istilah mirip dengan armageddon muncul lagi, tetapi termodifikasi jadi snowmageddon. Melihat istilah itu, asosiasi kita pun melayang ke bencana yang ditimbulkan oleh badai salju yang luar biasa. Tidak salah lagi, itulah istilah yang dicetuskan oleh Presiden AS Barack Obama tanggal 6 Februari lalu saat mengomentari badai salju yang membungkus dan melumpuhkan ibu kota AS, Washington DC. Dalam konteks perubahan iklim dan pemanasan global sekarang ini, snowmageddon sulit dipisahkan dari fenomena cuaca ekstrem yang beberapa waktu terakhir ini banyak menjadi berita dunia. Sejumlah kalangan di AS menjadikan snowmageddon untuk menegaskan lagi bahwa perubahan iklim itu benar-benar sudah terjadi walaupun sebagian justru percaya sebaliknya, pemanasan global itu omong kosong. Terhadap kalangan ini, Eugene Robinson dalam komentarnya di harian The Washington Post (The Jakarta Globe/JG, 20/21/2) menyebut, data awal suhu rata-rata untuk bulan Januari lebih hangat dari biasanya. Peserta karnaval tahunan di Rio de Janeiro menyatakan, terik matahari kali ini sungguh tidak biasa. Apakah perasaan ”lebih panas dari biasa” atau ”lebih panas dari tahun-tahun sebelum ini” sekadar perasaan atau fenomena riil? Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) sudah memastikan, dasawarsa yang berakhir pada 2009 merupakan dekade terpanas dalam catatan rekor mutakhir. Badan ini juga menemukan bahwa tahun 2009 merupakan tahun kedua terpanas sejak tahun 1880 ketika pengukuran suhu modern dimulai (John Broder/International Herald Tribune/IHT, 23- 24/1). Menurut catatan, tahun paling panas adalah tahun 2005 dan tahun-tahun terpanas lain terjadi semenjak tahun 1998. Laporan NASA di atas juga menjadi pendukung baru bagi fenomena pemanasan global meski disebut bahwa itu bukan kata akhir dalam memastikan bahwa suhu Planet Bumi akan terus naik (Direktur NASA James E Hansen dalam soal ini sering diserang oleh pihak yang skeptik terhadap pemanasan global. Ia disebut acap menggunakan data suhu secara selektif). Namun, di luar skeptisme yang masih terus ada, faktanya tren kenaikan suhu tercatat 0,2 derajat celsius per dasawarsa dalam 30 tahun terakhir. Suhu global rata-rata sudah naik 0,8 derajat celsius sejak tahun 1880. Pembuat kebijakan yang hadir di KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Desember lalu, menyepakati satu sasaran untuk menahan kenaikan suhu global rata-rata sampai 2 derajat celsius dalam upaya untuk menghindar dari efek pemanasan global yang paling buruk. Di antara panas di Rio de Janeiro dan snowmageddon di Washington, ada laporan lain tentang kacau balaunya cuaca. Di Filipina, setelah berbulan-bulan dilanda taifun, negeri itu kini dilanda kekeringan. Gejala alam El Nino—yang sebelum ini sudah punya mekanisme sendiri—kini mengancam panen dan berikutnya juga bahan pangan serta penyediaan listrik. Yang terakhir ini disebabkan oleh langkanya air, membuat bendungan hidroelektrik tak bisa berfungsi normal. Juru Bicara Presiden Gloria Macapagal-Arroyo, Jumat pekan silam, meminta rakyat Filipina menampung air bekas mandi supaya bisa dipakai untuk mengguyur toilet. (IHT, 20/21/2) Pengalaman terakhir Filipina ini menggarisbawahi betapa perubahan iklim dan gangguan cuaca menimbulkan rentetan efek panjang, mulai dari sekadar kegerahan atau ketidaknyamanan cuaca hingga ke gangguan panen, kelangkaan pasokan air, dan pemadaman listrik. Di AS, pihak yang skeptik pemanasan global bahkan sempat mengolok-olok Al Gore, tokoh yang banyak membangkitkan kesadaran masyarakat dunia akan fenomena itu melalui buku dan film An Inconvenient Truth. Ada juga senator yang—seperti dikutip Eugene Robinson—yakin bahwa salju akan terus turun sampai Al Gore mengaku keliru. Akan tetapi, dengan dukungan bukti dari tempat-tempat lain, juga temuan NASA di atas, pengolok-olok pemanasan global sebaiknya segera sadar bahwa gejala itu bukan saja nyata, tetapi buktinya sudah bersama kita. Mau tak mau, kita juga memperhitungkan gejala alam lain yang terjadi dalam tahun-tahun terakhir ini. Masih terngiang apa yang dikemukakan oleh Komisioner Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) yang juga mantan Perdana Menteri Portugal Antonio Guterres bahwa gempa bumi, siklon, tsunami, banjir, dan tanah longsor merupakan bencana alam yang frekuensinya lipat dua dalam dua dekade terakhir. Selain frekuensinya meningkat, katastrofi tersebut juga bertambah intensitasnya, meningkat daya penghancuran serta ancamannya terhadap kehidupan manusia. Pada tahun 2008, ada sekitar 36 juta orang yang tiba-tiba harus tergusur oleh fenomena alam ini, tambahnya (IHT, 11/12/09). Semoga semua itu bisa menjadi bukti cukup untuk bertindak lebih giat lagi dalam memerangi pemanasan global yang banyak diyakini menjadi penyebab munculnya berbagai cuaca ekstrem yang hari-hari ini semakin sering kita amati.
Selasa, 12 Januari 2010
Dari "Armageddon" ke "Snowmageddon"
Selasa, 05 Januari 2010
Presiden SBY Serukan Penyelamatan Bumi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika membuka 11th Special Session of the Governing Council, Rabu (24/2/2010) di Nusa Dua, Bali, menyerukan penyelamatan bumi di hadapan lebih dari 30 menteri lingkungan dan sekitar 1.000 peserta yang datang dari 130 negara.
Presiden mengatakan, pertemuan yang berlangsung pada tanggal 24-26 Februari 2010 ini memiliki nilai strategis dan diharapkan mampu menjawab persoalan kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan. "Semoga pertemuan ini mampu memperbarui semangat untuk memelihara dan menjaga planet kita demi anak cucu," ujar Presiden.
Selain itu, Presiden mengatakan, melalui tema acara ini, "Environment in the Multilateral", sebuah kerja sama internasional diharapkan dapat digalang demi mencari solusi yang tepat bagi pembangunan yang berkelanjutan.
Presiden kemudian menjelaskan situasi terkini soal lingkungan hidup. Dikatakannya, dalam 12 tahun terakhir ini terjadi kenaikan suhu tertinggi sejak tahun 1850. Kenaikan suhu ini menyebabkan permukaan air laut meningkat. "Kenaikan ini berdampak negatif bagi jutaan orang yang hidup di bumi ini," ujar Presiden.
Saat ini, keanekaragaman flora dan fauna dunia juga terancam. Puluhan ribu spesies terancam hilang tak berbekas pada akhir abad ini. Presiden juga mengaku prihatin terhadap eksploitasi yang terjadi di laut. Eksploitasi ini dinilai mengganggu ekosistem dan mengurangi nilai ekonomi laut. Pada tahun 2008 lalu, nilai ekonomi laut yang hilang karena eksploitasi yang berlebihan mencapai 50 miliar dollar AS.
Minggu, 03 Januari 2010
Presiden: Tingkatkan Kapasitas UNEP
"Hal ini menyebabkan fungsi dari masing-masing kesepakatan itu tidak dapat berjalan optimal. Karena itulah, kita harus menguatkan koordinasi, koherensi, dan efektivitas tata kelola lingkungan global dalam sistem PBB. Kita juga harus memastikan efektivitas dan koherensi aksi global dalam mengatasi permasalahan lingkungan," ujar Presiden ketika membuka 11st Special Session of the Governing Council, Rabu (24/2/2010) di Nusa Dua, Bali.
Presiden melanjutkan, "Bagi kita, tidak ada pilihan lain kecuali meningkatkan kapasitas UNEP sebagai badan PBB yang bertanggung jawab langsung terhadap permasalahan lingkungan. Berikan mandat yang kuat terhadap UNEP. Berikan pula kewenangan dan tanggung jawab yang besar. Dan, berikan pula pendanaan yang cukup untuk menjalankan mandat dan tanggung jawabnya."
Sementara itu, SBY mengatakan, krisis keuangan dan resesi ekonomi global baru-baru ini tidak hanya berdampak negatif terhadap pembangunan, tetapi juga terhadap kemampuan untuk mengatasi permasalahan lingkungan.
SBY mengatakan, krisis memberikan pemahaman bahwa model pembangunan yang dilakukan selama ini tidak sesuai dengan situasi dan kebutuhan global. "Kita harus mendesain ulang model dan strategi pembangunan ekonomi global. Kita harus mengarahkan agar pembangunan dapat mendorong terjadinya pertumbuhan yang riil. Pembangunan yang menghasilkan struktur ekonomi yang tidak rapuh," imbuhnya.
Selain itu, pada saat yang bersamaan, SBY mengatakan bahwa para pemimpin harus selalu mempertimbangkan tingkat kerusakan lingkungan dan keberlangsungan kehidupan di planet ini. "Kita tidak boleh mewariskan planet Bumi yang rusak kepada anak cucu kita. Adalah tanggung jawab kita semua untuk mengatasi tantangan besar ini secara tepat, efektif, dan koheren," ujarnya.
Sabtu, 02 Januari 2010
Cermin dari Perubahan Iklim
Dari situ kita akan sadar bahwa secara alamiah iklim itu memang akan berubah walau tanpa campur tangan manusia. Dan, dengan adanya aktivitas manusia, berawal dari revolusi industri hingga kini, iklim berubah dengan drastis. Mungkin semua orang tahu bahwa penyebab utama perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di udara yang menyebabkan temperatur di permukaan bumi meningkat. Hampir semua negara di dunia berusaha untuk menurunkan emisi GRK-nya masing-masing walau dengan perdebatan yang cukup alot mengenai besaran yang harus diturunkan. Dan, menurut hemat saya, hal tersebut cukup sulit karena banyak faktor yang harus dipantau dan dievaluasi, serta yang jelas harus ilmiah. Kita mungkin paham bahwa hutan kita adalah paru-paru dunia dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO) sehingga kita berusaha untuk menjaga hutan agar tetap Namun, belum banyak yang paham bahwa perairan kita yang sangat luas itu juga memiliki potensi dalam mengatur kesetimbangan CO di atmosfer. Potensinya adalah dapat sebagai penyimpan dan atau penyumbang CO. Tetapi, kita belum tahu persis potensi yang mana yang kita miliki. Di sini saya sedikit mengulas bagaimana ekosistem perairan selain lautan, yaitu danau dan waduk, dan apa kaitannya dengan emisi GRK. Indonesia memiliki 521 danau alami, terbanyak di Asia Tenggara, dan lebih dari 100 waduk. Danau dan waduk adalah ekosistem yang menerima input materi dari ekosistem daratan, termasuk di dalamnya karbon. Apabila materi tersebut adalah makhluk hidup atau sisa dari makhluk hidup, suatu saat materi tersebut akan terdegradasi menghasilkan inorganik karbon yang salah satunya adalah CO. Memang benar, material organik tadi dapat terbenam di dasar danau, tetapi hampir semua danau yang ada di Indonesia dapat mengalami pengadukan sempurna sehingga CO dan material lainnya di dasar itu mampu kembali ke permukaan. Adanya aktivitas fotosintesis-respirasi memengaruhi CO di permukaan, tetapi tidak cukup signifikan karena keduanya berada cukup seimbang. Lebih lanjut jika konsentrasi CO di lapisan permukaan air sangat tinggi dan jenuh, CO akan terlepas ke udara. Secara global Cole dkk. (1994) menghitung bahwa sekitar 87 persen dari 4.665 danau—termasuk waduk—yang ada di dunia (sekitar 2 x 106 kilometer persegi) berpotensi menyumbang CO ke atmosfer dengan total kisaran 0,14 x 1.015 gram karbon per tahunnya. Sayangnya mereka tidak merekam danau-danau di Indonesia yang sedemikian banyaknya (± 3 persen luas total daratan) dengan masing-masing karakternya. Hasil kalkulasi saya, berdasarkan data dari Lehmusloto dkk (1997), yang pernah meneliti sangat banyak danau di Indonesia, danau-danau di Indonesia memiliki tekanan parsial CO (pCO) sebesar 194,79 µatm-947,49 µatm dan waduk sebesar 102,19 µatm-843,38 µatm. Artinya, danau dan waduk di Indonesia memiliki potensi yang sama dalam mengikat dan melepaskan CO ke udara. Namun, kisaran pCO danau dan waduk di Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan danau di belahan bumi lainnya. Danau-danau di Afrika memiliki pCO hingga 59.900 µatm, hampir 60 kali lipat danau-danau di Indonesia. Danau dan waduk hanyalah salah satu bagian dari siklus karbon yang mungkin terlewatkan dalam pemikiran kita untuk menurunkan GRK. Wajib dipahami bahwa untuk menurunkan emisi GRK kita haruslah menelaah semua segi kehidupan, termasuk perilaku kehidupan sehari-hari karena manusia merupakan pemeran utama dalam beberapa siklus yang ada di muka bumi. Sumbangsih danau pada emisi GRK di udara bertolak secara alamiah. Namun, pengelolaan danau yang salah arah dapat menyebabkan danau itu berperan sebagai penghasil GRK yang sangat potensial. Cukup banyak danau dan waduk di Indonesia yang mengalami tekanan lingkungan sehingga memiliki potensi melepas GRK dalam jumlah yang besar. Material organik, seperti sisa aktivitas pertanian, pakan ikan, lumpur, dan pencemar lainnya sangat berpotensi untuk terdegradasi menjadi GRK. Memang, perlu ada penelitian lebih lanjut dan detail pada ekosistem ini agar peran masing-masing dapat lebih dipahami. Namun, peran serta seluruh pihak, baik dari masyarakat, pemerhati maupun pemerintah sangatlah dibutuhkan dalam menyikapi isu perubahan iklim ini. Dan, menurut hemat saya, danau dan waduk adalah cermin keberhasilan usaha kita semua dalam memperbaiki kualitas lingkungan yang bermanfaat untuk menurunkan emisi GRK.
