Kamis, 11 Maret 2010

Orangutan, Tuan yang Pilu di Rumah Sendiri (1)


Orangutan yang hanya segelintir di dekat Kota Ketapang, Kalimantan Barat, sepertinya bakal bernasib mengenaskan. Pasalnya, sejalur jumbo atau jalan baru yang dibuat dengan ekskavator telah mengancam habitat orangutan di perhuluan Sungai Sentap.

"Sepertinya jumbo itu merupakan jalan as dari rencana perkebunan kelapa sawit di daerah gambut itu," kata Yan Sukanda (45) etnomusikolog, pendidik, pemerhati kebudayaan, dan lingkungan hidup.

Yan yang tinggal di Ketapang, Kalimantan Barat, ini merasa miris melihat kelestarian areal tersebut mulai terancam. Ia bersama sejumlah aktivis Flora Fauna Indonesia terakhir kali berkunjung ke sana pada 7 Februari lalu.

"Dua pekan lalu, saya dan teman-teman berniat menjenguk induk orangutan yang tengah mengasuh bayinya. Kami berangkat sore hari, tapi sayang hanya menemukan sarang mereka yang masih baru," tutur Yan.

Lebih mengagetkan lagi, selang 1,5 kilometer dari lokasi sarang, mereka tiba-tiba sudah berada di penghujung hutan. Bagian yang seharusnya berada di tengah rimba sudah dilintangi jumbo. Mirisnya, area yang menjadi habitat orangutan itu sama sekali tidak dikelola pemerintah. Justru penebangan hutan untuk membuka kebun sawit, pelan tetapi pasti, semakin menghabiskan areal rimba.

Yan mengatakan, rimba itu terletak di perhuluan Sungai Sentap, persis di pinggiran jalan jalur Sungai Awan-Tanjung Pasar. Jarak tempuh sekitar 10 km dari kampung Sungai Awan atau sekitar 20 kilometer dari Kota Ketapang.

Menurut Yan, orangutan yang pernah mereka jumpai diperkirakan hanya empat ekor. Mereka mendapat informasi keberadaan satwa langka tersebut dari Bosman (60), petani dan gembala di kawasan sekitar hutan itu.

"Pak Bosman selalu memberikan informasi kehadiran orangutan di dekat pondoknya. Kata dia, saat ini ada dua induk orang utan yang sedang mengasuh anaknya. Kami ingin melihat dan mengabadikan momen itu," ujar Yan.

Di lokasi itu pula, Yan bersama rekan-rekannya sering melakukan pengamatan terhadap primata yang hidup di sana. Mereka mendirikan Camp Orangutan, yang disingkat Camp Orut, dengan bantuan Yayasan Palung.

Senin, 08 Maret 2010

Orangutan, Tuan yang Pilu di Rumah Sendiri

Area rimba gambut di hulu Sungai Sentap, Ketapang, Kalimantan Barat itu, ternyata tak hanya habitat orangutan, tetapi juga diduga bekas permukiman kuno kisaran ratusan tahun silam, menyimpan kekayaan budaya tak ternilai.

Yan Sukanda seorang etnomusikolog dan pengamat lingkungan menuturkan, setahun lalu di lokasi tersebut hutan primernya masih sangat baik. Bentuknya berupa tanah 'pematang' yang membujur memanjang. Panjang bujuran pematang diperkirakan sekitar 5 kilometer, dan lebarnya sekira 500 meter. Pematang ini berada sepanjang hutan di tanah gambut.

"Di tengahnya ditemukan kumpulan pecahan keramik, seperti mangkok, piring, dan mungkin tempayan. Daerah ini mungkin pernah jadi tempat pemukiman ratusan tahun lalu," ujar Yan.

Pohon tengkawang dan pohon asam lembawang banyak ditemui, menjulang tinggi dengan kerimbunan alami. Dua jenis pohon itu lekat sekali dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedalaman.

Tetapi, dua pekan lalu, ditemukan suasana yang telah berubah. Sejalur jumbo atau jalan as untuk proyek perkebunan sawit, telah melintangi area itu.

"Setahun lalu kami ke area itu, berjumpa induk orangutan muda. Belakangan, Pak Bosman (penggembala) yang tinggal di sekitar area memberitahu, orangutan itu kini sudah punya bayi. Sayangnya kami hanya menjumpai sarang mereka," tutur Yan yang mulai mengenal areal itu sejak 2003.

Setiap berkunjung ke hutan itu, Yan biasanya membawa serta beberapa murid, rekan-rekan pencinta alam, atau siapa pun yang punya kepedulian. Mereka membawa global positioning system (GPS) untuk menentukan titik koordinat hutan, maupun kamera video.

Dari pengamatan mereka, primata yang masih ada dan pernah ditemukan seperti orangutan (pongo pygmaeus), kelempiau (hylobates muelleri), bentangan (nasalis larvatus), kelasi, kera (macaca fascicularis), beruk, dan lutung.

Kini, lokasi itu dalam persiapan perkebunan kelapa sawit. Banyak warga masyarakat yang mulai berebut mengkapling tanahnya.

"Sebenarnya, tempat itu sangat damai. Aku dan teman-teman senang ke situ, bermalam di Camp Orut. Mengamati hewan primata terutama orangutan. Kami hanya volunteer yang melakukan pengamatan, mengampanyekan, dan menyerukan perlindungan lokasi itu," ujar Yan.

Untuk mendatangi tempat, mereka hanya bisa menggunakan sepeda motor. Saat hujan jalannya cukup licin.

Jika sedang tak beruntung, sosok orangutan hanya bisa terlihat samar di ketinggian pohon dan sela dedaunan rimbun. Sementara yang paling sering dijumpai yakni primate jenis kera, kelasi, dan lutung.

Sabtu, 06 Maret 2010

Deforestasi Ancam Satwa Endemik

Hutan di Pulau Jawa terus terancam deforestasi. Hal ini dinilai akan mengancam kehidupan masyarakat dan kelestarian satwa endemik Jawa.

Berdasarkan data laju deforestasi (kerusakan hutan) Departemen Kehutanan periode 2003-2006, diketahui laju deforestasi di Pulau Jawa sebesar 2.500 hektar per tahun (0,2 persen) dari total deforestasi di Indonesia. Laju deforestasi di Indonesia sebesar 1,17 juta hektar per tahun.

Profauna mengajak masyarakat menyadari bahwa kondisi hutan di Pulau Jawa sangat terancam. ”Tanggung jawab pelestarian bukan hanya pada pemerintah, melainkan juga masyarakat secara luas,” kata juru kampanye hutan Profauna, Radius Nursidi, Senin (22/2/2010) di Malang, Jawa Timur.

Terkait hal itu, Profauna menggelar unjuk rasa di Jalan Simpang Balapan, Kota Malang. Sejumlah anggota Profauna berdiri bagai pohon, berjajar menghadap jalan sambil membawa tulisan ”Save Forests in Java”.

”Rata-rata deforestasi hutan terjadi karena perambahan untuk ladang atau dijadikan lokasi pabrik. Hal ini menyebabkan bencana banjir atau tanah longsor, seperti yang terjadi di Pujon dan Cangar (Malang),” katanya.

Dampak buruk lain akibat kerusakan hutan adalah terancamnya kelestarian satwa endemik Jawa, misalnya lutung jawa (Trachypithecus auratus), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), macan tutul (Panthera pardus), elang jawa (Spizaetus bartelsi), dan merak (Pavo muticus), akibat hutan yang menjadi habitat mereka rusak.

Direktur Profauna Malang Rosek Nursahid mencontohkan, populasi lutung jawa di Malang Raya saja terus merosot. Sekitar 15 tahun lalu di sekitar Pegunungan Panderman, Batu, ditemukan lebih dari lima kelompok lutung jawa (setiap kelompok terdapat 5 hingga 25 ekor). Kini lutung jawa tidak lagi ditemukan.

Di lokasi lain, lereng timur Gunung Arjuno, 15 tahun lalu Rosek menemukan 7 hingga 10 kelompok lutung jawa. Sekarang jumlahnya tidak lebih dari dua kelompok.

Padahal, lutung jawa merupakan indikator tingkat kerusakan hutan. Lutung jawa dikenal sebagai binatang dengan sensitivitas tinggi, yang hanya bisa hidup di hutan dengan kondisi masih bagus, makanan masih banyak, minim aktivitas manusia, dan masih banyak pohon.

”Lutung jawa jenis binatang arboreal (hidup di atas pohon). Kalau vegetasi sudah rusak, lutung tidak akan bisa bertahan,” katanya. Lutung juga banyak ditangkap untuk dimakan sebagai obat peningkat stamina.

Kamis, 04 Maret 2010

Tindak Industri CPO Ilegal

Pemerintah harus menindak tegas industri minyak kelapa sawit mentah yang membangun perkebunan di kawasan hutan dan melanggar hukum. Tanpa keseriusan penegakan hukum, berbagai upaya kampanye positif untuk meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia memproduksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) lestari bakal sia-sia.

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi di Jakarta, Selasa (23/2/2010), mengungkapkan, Indonesia tak layak membanggakan diri sebagai produsen CPO terbesar dunia. "Pemerintah Indonesia harus introspeksi diri. Bagaimana Indonesia bisa menjadi produsen CPO terbesar dengan tetap membiarkan perkebunan kelapa sawit beroperasi di kawasan hutan secara ilegal," ujar Elfian.

Sebagian perkebunan, kata Elfian, hanya mengandalkan izin prinsip kepala daerah tanpa mengurus izin pelepasan hak kawasan hutan dari Menteri Kehutanan. Kondisi ini semakin diperparah dengan perambahan hutan lindung dan kawasan konservasi untuk pembangunan perkebunan.

Indonesia memiliki 7,5 juta hektar perkebunan kelapa sawit dan memproduksi 20,7 juta ton CPO. Sedikitnya 5,5 juta ton diserap pasar dan sisanya diekspor dengan nilai 13 miliar dollar AS tahun 2009.

CPO merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Walau demikian, dunia internasional terus menuntut produksi CPO tidak merugikan lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

Elfian mengatakan, nilai ekonomi CPO yang tinggi tidak boleh menjadi dalih pemerintah mengabaikan kelestarian lingkungan. "Jangan sampai kerusakan lingkungan malah menghancurkan seluruh investasi masyarakat, swasta, dan pemerintah yang sudah ada akibat penegakan hukum lemah," ujar Elfian.

Seperti diberitakan Kompas (22/2/2010), perkebunan kelapa sawit ilegal di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mencapai 2 juta hektar. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan, pihaknya akan memperkarakan pelanggaran kawasan hutan secara hukum.

Berdasarkan data rekalkulasi penutupan lahan Kemenhut (2008), di Pulau Sumatera dan Kalimantan, tutupan lahan berupa tegakan perkebunan di kawasan hutan mencapai 3,5 juta hektar.

Industri kelapa sawit dunia sebenarnya sudah mengedepankan prinsip kelestarian. Produsen CPO, industri pengolahan, organisasi nonpemerintah lingkungan, dan para pemangku kepentingan kelapa sawit mendirikan forum Meja Bundar Minyak Sawit Lestari (Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO) untuk menyusun standar CPO lestari.

Menteri Pertanian Suswono dalam berbagai kesempatan menekankan, Indonesia berkomitmen mengembangkan CPO lestari sesuai asas dan standar yang ada. Indonesia kini tengah mengembangkan standar minyak sawit lestari.

Salah satu cara mengembangkan tolok ukur standar CPO lestari adalah mempertemukan para pemangku kepentingan kelapa sawit dengan aktivis lingkungan dalam International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) 2010 di Nusa Dua, Bali, Selasa-Kamis (23-25/2/2010). Presiden Direktur SMART Daud Dharsono menegaskan, konferensi yang menghadirkan para ahli kelapa sawit dari berbagai sisi diharapkan mampu menyusun tolok ukur yang lebih akurat dan adil untuk produksi CPO yang lestari.

Selasa, 02 Maret 2010

F-111 Kobarkan Api di Ekornya

Meski merasakan dampak krisis ekonomi pada tahun 2009, industri kedirgantaraan dunia tetap optimistis. Salah satu buktinya adalah hadirnya perusahaan kedirgantaraan utama dunia, seperti Boeing, Airbus, Lockheed Martin, di Pameran Kedirgantaraan Singapura yang dibuka hari Selasa (2/2/2010) oleh Wakil Perdana Menteri Teo Chee Hean.

Meski raksasa penerbangan hadir, jumlah peserta - seperti diakui Jimmy Lau, Direktur Singapore Airshow kepada Show Daily - itu hanya 85 persen dari jumlah peserta tahun 2008. Kini jumlah peserta yang ikut pameran berjumlah 820, terbagi hampir sama antara perusahaan penerbangan sipil dan militer.

Boeing, pabrikan Amerika yang produknya malang-melintang di dunia, mengakui, tahun 2009 merupakan tahun paling buruk dari sisi bisnis sejak tahun 1971. Namun, bersama pesaing utamanya dari Eropa, Airbus, Boeing tetap hadir secara masif. Penerbangan perdana pesawat terbarunya, Boeing 787 Dreamliner Desember lalu, memberi tambahan keyakinan untuk menyongsong masa depan.

Dari sisi wilayah pemasaran, oleh para industrialis penerbangan Asia-Pasifik tetap diakui sebagai wilayah berprospek cerah. Tom Enders, CEO Airbus, bahkan menyebut kawasan ini kunci masa depan Airbus. Untuk tahun 2010, Airbus berharap bisa mengantongi 250-300 pesawat, kata Direktur Pemasaran Airbus John Leahy, seperti dikutip Singapore Airshow News kemarin.

Keyakinan mengenai Asia Pasifik bukan saja untuk pasar pesawat komersial, melainkan juga untuk pesawat militer. Angkatan udara negara-negara di kawasan ini dicatat masih terus memesan pesawat militer, baik jenis tempur, latih, maupun angkut, dari Jepang hingga Australia.

Melengkapi penjajakan di dalam gedung pameran, juga di chalet (tempat perusahaan peserta menerima tamu undangan), di langit terbuka diadakan demo penerbangan oleh pesawat militer dan helikopter.

Pesawat veteran Perang Teluk A-10 Thunderbolt, atu dijuluki Warthog yang dikenal sebagai pembunuh tank, tampil untuk pertama kali di arena Singapura. Dalam salah satu manuvernya diperlihatkan bagaimana ia menukik untuk memburu sasaran lapis baja dengan meriam Avenger raksasa di mulutnya.

Bintang pameran sendiri masih milik pesawat era Perang Vietnam milik AU Australia, yakni F-111. Jet pengebom taktis bersayap ayun ini, sebagaimana pada pameran tahun 2008, tampil dengan membakar bahan bakar yang ia buang sehingga menimbulkan kobaran api di arah ekornya. Karena Royal Australian Air Force akan memensiunkan jet yang sempat dijuluki Peti Mati Terbang ini, maka penampilan kali ini merupakan yang terakhir bagi F-111 di luar Australia.

Penerbangan hijau

Seiring menguatnya isu lingkungan, Selasa siang dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia dan IATA (Asosiasi Angkutan Udara Internasional).

Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar menyebutkan, Garuda Indonesia akan bekerja sama dengan IATA untuk sistem offset (penebusan) karbon. Nantinya, penumpang bisa memilih membayar kompensasi atas emisi karbon yang ditimbulkan penerbangannya. Seperti dijelaskan VP Corporate Communication Garuda Pujobroto pada siaran persnya, Garuda Indonesia menjadi maskapai penerbangan Asia yang bergabung dalam program offset karbon ini.